Impact and responsibilities for sustainable tourism: A tour operator’s perspective

Impact and responsibilities for sustainable tourism:

A tour operator’s perspective

Adriana Budeanu

International Institue for Industrial Environmental Economics

At Lund Uniersity

Tegnersplatsen 4, PO Box 196,

221 00, Lund, Sweden

Fax +46 (0)46 222 0210

E-mail: adriana.budeanu@iiiee.lu.se

 

Abstract

Tour operator memegang peranan penting dalam membangun hubungan antara penawaran dan permintaan dalam pelayanan pariwisata. Perusahaan yang beroperasi transnasional yang mendominasi sektor Eropa, telah mendemonstrasikan bagaimana mengatasi dampak yang dihasilkan oleh kegiatan mereka. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk memperluas tanggung jawab mereka di luar tindakan langsung yang mereka lakukan dengan menyampaikan pesan positif untuk peningkatan kepedulian dan kegiatan pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

1.  Introduction

Dalam kurun waktu 30 tahun terkahir,  industri pariwisata berkembang menjadi salah satu industri penting, pertumbuhannya dua kali lebih cepat Gross Domestic Product dunia (GDP). Seperti yang diparparkan oleh sekjen World Tourism Organization (WTO) Francesco Frangialli “tourism at the turn the century is growing faster than even our most optimistic prediction”. Hal ini adalah sebuah aktifitas ekonomi yang besar yang secara berkelanjutan akan merangsang perkembangan ekonomi dunia. Sehingga diperlukan sebuah pencegahan untuk mengimbangi pengaruh negatif dari perkembangan pariwisata seperti industri bisnisnya (business thinking), dan prilaku wisatawan (consumers behavior).

Tour operator dalam aktivitasnya memegang peranan yang penting dalam mewujudkan sebuah pariwisata yang berkelanjutan. Tulisan ini akan menggambarkan langkah kongkrit yang dilakukan oleh sebuah Tour Operator Eropa dalam mengurangi dampak negatif yang dihasilkan oleh aktifitasnya dan mengidentifikasi pilihan-pilihan untuk sebuah potensi pengembangannya.

2. Tourism’s Importance

Industri pariwisata telah diakui sebagai penghasil kekayaan dan perekrut tenaga kerja yang besar. Saat ini pengahasilan industri pariwisata menghasilkan lebih dari 11,7% dari Global Gross Domestic Product (GDP) dan 7% usaha bisnis pariwisata yang bergerak di seluruh dunia. Diprediksikan pertumbuhan untuk dekade selanjutnya adalah 4,1% setiap tahunnya. Hal ini tentunya akan menjadi target yang besar untuk setiap negara dan ekonomi global dalam usahanya untuk menggabungkan antara sustainability dimensions kedalam development strategies.

Eropa telah menjadi bagian pariwisata yang penting di dunia. Hampir 59% wisatawan internasional datang dan menghasilkan 52% pendapatan di sektor ini. Untuk keseluruhan Uni-Eropa, pariwisata saat ini menghasilkan 5.5% dari GDP dan 6% tenaga kerja yang bergerak di industri pariwisata, ynag menyerap 75% pendapatan dari wisatawan Eropa dan 39% jumlah pendapatan dunia.

Dengan rangsangan sosial dan pertukaran budaya, pariwisata juga memiliki pesan moral yang penting dalam mewjudkan kedamaian dunia seperti pariwisata mendukung restorasi, konservasi, proteksi dari nilai-nilai alam, sejarah (historical) dan peninggalan sejarah & budaya (culutural sites) dan menjaga keaslian sebuah tempat (landscapes). Semuanya, akan membawa manfaat dalam perkembangan pariwisata dalam memimpin kebijakan keberlanjutan dengan strategi dan aturan-aturan yang bersifat mendunia. Local culture atau natural serenity adalah sebuah investasi yang tidak berhubungan langsung dengan harga tapi lebih dari itu hal tersebut memiliki nilai moral dan bahkan satu-satunya yang dikomersialisasikan oleh suatu daerah. Jika diamati sebagai sebuah industri yang memerlukan modal yang kecil, kegiatan pariwsata dan segala fasilitas yang berkaitan sangat cepat berkembang, dengan atau tanpa pertimbangan “too much tourism, kill tourism”.

Selain peningkatan pertumbuhan aktifitas pariwisata dan pendapatan yang dihasilkan, beberapa dampak negatif yang dihasilkan yang bersifat merusak seperti;

            In a study of 100 schoolchildren in Kalutara, Sri Lanka , 86 children had their first             sexual experience aged 12 or 13, the majority with a foreign tourist

            Scientist predict that by the year 2015, half of the annual destruction of the ozone    layer will be caused by air travel.

 

Dalam kurung waktu 20 tahun, resiko pertumbuhan pariwisata diprediksi akan mempertinggi resiko kedua potensi resiko diatas karena eksplorasi yang berlibihan. Untuk itu, ada hal yang sangat penting yang harus dipikirkan pelaku pariwisata guna mencari jalan keluar untuk mencegah atau mengurai dampak ke kedua ranah tersebut, alam dan sosial.

3. Tour operator as a central link in the distribution chain

Dalam beberapa studi, tour operator diidentifikasikan sebagai sebuah central link dalam sebuah transaksi dimana posisi tour operator sebagai wholesaler yang menghubungkan antara hotel dan industri transportasi sebagai produsen dan travel agent sebagai retailers.

Figure 1; A schematic structure of the distribution chain for holiday packages

 

 

 

 

 

(Source: adapted after Holloway, 1998)

Secara fundamental, tour operator adalah sebuah penghubung antara supply (persediaan) dan demand (permintaan) disebuah jasa pelayanan pariwisata. Dalam aktifitasnya, tour operator membeli produk dari produsen dengan jumlah besar sehingga mendapatkan harga yang lebih murah dan dapat dikombinasikan dengan paket-paket perjalanan lainnya, yang mana hal ini didasari dari kebutuhan manusia itu sendiri, dimana saat ini waktu dan harga adalah sesuatu yang sangat berharga bagi aktifitas manusia modern.

4. Tour operator’s share of torism’s impacts

Dampak yang paling besar dihasilkan oleh aktifitas pariwisata secara langsung berhubungan dengan produksi (production) and konsumsi (consumtion), yang mana tanggung jawabnya dibagi menjadi 3 kelompok utama yang terlibat yaitu producers, consumers dan tour operator sebagai perantaranya.

Producers, dasar dari industri jasa pelayanan pariwisata (transportasi, akomodasi, katering dan hiburan) sebagai komponen dari paket hiburan dikatakan sebagai produsen (producers). Karena peraturan yang ketat dan kepedulian masyarakat, mereka mulai dengan cepat menganilisis dampak aktifitas bisnis mereka dan mencari jalan keluar untuk meningkatkan performa mereka antaranya melakukan penilaian lingkungan, managemen sistem, mengurangi polusi, prosedur pencegahan yang akan bermuara pada aspek sosial-ekonomi

Consumer, dalam banyak kasus juga memiliki kewajiban penuh dari dampak aktifitas pariwisata yang mereka lakukan. Dengan ekspektasi permintaan yang tinggi dari comsumer, industri pariwisata sebagai produsen melakukan berbagai bentuk eksplorasi untuk memenuhi keinginan wisatawan. Situasi semacam ini akan berujung pada overexploitation, frutstration, and negative attitude terlebih dalam ranah pariwisata masal akan membawa tekanan pada alam dan masyarakat sekitar, mempengaruhi karakter masyarakat sebagai tuan rumah, dan membentuk respon negatif dari komunitas di tempat tersebut. Walaupun wisatawan telah menyadari hal ini namun penerapannya masih sangat terbatas (e.g. turning off the light when they leave their hotel room).

Aktifitas tour operator sebagai perantara tidak memerlukan tempat untuk produksi atau fasilitas bangunan, kecuali beberapa kantor yang secara langsung menghasilkan dampak lingkungan seperti energi, air, kertas. Walaupun pada perusahaan tour operator yang besar, dampak yang dihasilkannya pun relatif kecil. Namun diluar hal kecil tersebut, dampak luas yang dihasilkan oleh tour operator dalam oprasionalnya adalah produksi dan kosumsi package holiday yang dikeluarkan oleh tour operator dalam menjual produk-produk usaha industri pariwisata.

5. Current reductive actions of operators

Saat ini, situasi mulai berubah sebagai hasil dari meningkatnya kepedulian berbagai pihak yang terkait. Organisasi internasional, asosiasi industri, pemerintah mulai untuk melakukan investigasi mengenai aturan-aturan tour operator di dalam industri dan bagaimana usahanya dalam mengurangi dampak dari aktifitas mereka.

Sebagai respon, tour operator mengambil beberapa inisiatif untuk mengevaluasi dan meningkatkan tanggung jawab mereka. Beberapa langkah yang diambil diklasifikasikan menjadi 5 rumusan.

Awarenes and action

Hampir semua tour operator Eropa (TTG, TUI, BAH, SLG, FTG) telah beroprasi dengan mempertimbangkan pengurangan air, kertas, konsumsi energi, dan membeli barang-barang yang ramah lingkungan. Walaupun outlet-outlet tour operator besar ini berada disetiap belahan benua eropa, dengan kuatnya perhatian dan kepedulian manajemen semua outlet-outlet disupervisi agar melakukan hal yang sama dengan perusahaan induk sehingga beberapa aspek penting seperti enviromental, aspek sosial masih dalam pengawasan.

Soft supportive actions

Tour operator sebagai pintu masuk industri jasa pariwisata, lebih cenderung mendukung atau terlibat dalam “soft actions” untuk proteksi environmental dan proteksi sosial yang diselenggarakan oleh institusi lain, seperti NGOs dan sekolah-sekolah yang meningkatkan kepedulian dan pendidikan terhadap lingkungan, dana untuk reserach and development, menjadi sponsor even internasional (conferences), contohnya

– Fritdsresor Group support the activity of the World Wildlife Fund (WWF) office in                    Lanzarotte sland, Spain, with 50 Spainish pesetas.

– British Airways Holiday has 1,4 USD of each exercuiseion given for conservation                       project;

– TUI holds campaignes of planting tress, in some of their destinations.

 

Perusahaan tour operator besar dewasa ini banyak bekerja sama dengan reserach community apakah dengan pemberian beasiswa, mendukung projek penelitian atau yang paling sederhana menjadi objek dari penelitian tersebut sehingga dapat memeberikan informasi bagaimana melakukan aktifitas bisnis tanpa merusak alam dan sosial.

Reductive measures

Melihat tindakan yang diambil untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari fasilitas pariwisata  dan operator, orang bisa dengan mudah melihat upaya yang signifikan dilakukan untuk meminimalkan dampak tersebut. Memantau dan menetapkan kegiatan sebagai indikator yang dikembangkan sebagai kebijakan lingkungan, diikuti oleh tujuan dan target. Pembandingan dalam fasilitas perusahaan yang saat ini dilakukan untuk menekankan dan memberikan penghargaan kepada pemasok/retaile (subkontraktor) yang memiliki kinerja terbaik

 

Tour operator secara ketat berhubungan dengan skala ekonomi, mereka berusaha terus menerus untuk meningkatkan penjualan melalui holiday package, sehingga mereka juga memiliki tanggug jawab yang besar untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, inisiatif yang diambil oleh tour operator untuk meminimalkan dampak yang dihasilkan oleh subkontraktor mereka masih belum sejalan dengan visi mereka. Beberapa operator besar di Eropa sudah mulai memeriksa kinerja pemasok mereka, tapi ini belum merupakan persyaratan untuk kontrak:

–          TUI has been checking yearly the environmental performance of all its suppliers, for the past few years;

–          SLG has implemented a 100 steps program for reducing the environmental impact of all their Sunwing resort (which are owned by SLG), and recently the idea was presented also to their suppliers, together with the offer of support for its implimentation; also a great effort has been done to improve the invironmental performance of their main airline premiair (Denmark).

–          Fritdsresor Group astablished the Bluw Village concept, which is applied by some of their subcontractors and owned facilities, and has clear requirements for good environmental management, buat it is implemented only in few locations;

 

Bagaimanapun, tindakan-tindakan diatas masih relatif baru dan belum memiliki kekuatan, walau hanya dengan mengirimkan pesan kepedulian lingkungan oleh operator kepada rekanan bisnis telah menunjukan tindakan nyata oleh tour operator dalam partisipasinya dalam mengurangi dampak-dampak aktifitas pariwisata ini.

 

Cooperation with local authorites

Kerja sama antara tour operator, local authorites dan institusi pemerintah harus semakin dibangun, hal ini sangat penting untuk saling memberi masukan bagaimana industri pariwisata ini dibangun. Contohnya adalah pembentukan asosiasi lokal yang sejalan dengan bisnis/aktifitas yang mereka lakukan seperti (Swedish Tour Operators Association) maupun yang lebih luas (European Tour Operators Association). Namun aktifitasnya dilapangan, asosiasi-asosiasi seperti tidak secara rutin berhubungan satu dengan yang lain sehingga hasilnya mereka tidak bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul.

 

Customer’s awareness

Tindakan yang dilaksanakan oleh tour operator dalam membangun kepeduluan wisatawan terhadap dampak aktifitas pariwisata masih dikatakan sedikit, namun tindakan-tindakan kecil tersebut telah merangsang kepedulian wisatawan dalam mengurangi dampak negatif pariwisata, contohnya banyak tour operator dimana dalam aktifitas promosi menggunakan katalog mencantumkan hotel partner yang melakukan tindakan kepedulian terhadap lingkungan (water, wester, energy cleaning agents) selain itu tour operator juga memberikan informasi yang lengkap bagaimana keaslian destinasi yang akan dituju wisatawan seperti (geology, history, culture, flora dan fauna) sehingga wisatawan lebih paham mengenai karakteristik tempat wisata tersebut dan merangsang kepedulian mereka terhadap lingkungan tersebut.

6. Conclusions

Pertumbuhan aktifitas pariwisata tentunya akan membawa pengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi dan dampak negatif dari sebuah eksplorasi yang berlebihan. Dengan slogan “too much tourism killed tourism” sehingga diprediksi aktifitas industri pariwisata pada 20 tahun kedepan lebih pada pendekatan pencegahan dalam aktifitas pariwisata dan alternatif aktifitas pariwisata.

Tour operator memiliki peranan yang sangat central dalam aktifitasnya menghubungkan antara supply dan demand. Dalam aktifitas networking yang global, tour operator dapat mengambil bagian dalam menginformasikan dan mendorong consumer dan producer untuk meningkatkan tanggung jawabnya dalam sektor pariwisata.

Saat ini, aktifitas sebuah tour operator yang bersekala besar sudah mulai menyadari pentingnya menjaga aspek lain selain mengejar pertumbuhan ekonomi, antara lain enviromental/ lingkungan (nature dan social).

Ketika ditemukan sebuah destinasi baru yang belum “dikomersialkan”, tour operator melakukan fungsinya dengan mempengaruhi kebijakan antara supplier dan customers, dengan mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi dari bisnis mereka.

Secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa saat ini hampir seluruh perusahaan tour operator di belah eropa telah sadar akan dampak aktifitas bisnis yang dihasilkan, dan sebuah komitmen telah lahir untuk mengambil bagian dalam mengembangkan pariwisata dengan mempertimbangkan dampak-dampaknya melalui kebijakan mereka sebagai penghubung antara supplier dan customers.

Reviewed by Sukma Winarya Prabawa

This entry was posted in Sustainability Tourism. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s