WARISAN PERADABAN NUSANTARA SEBAGAI POTENSI HERITAGE TOURISM

Abstrak

Indonesia adalah negara yang kaya akan kekayaan sumber daya alam, ragam budaya, adat-istiadat, suku serta sejarah kegemilangan masa lalu kerajaan-kerajaan yang terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Dengan munculnya trend pariwisata yang terbukti membawa dampak yang positif dalam peningkatan pendapatan negara dan kesejahtraan masyarakat, melalui aktifitas wisata baik yang menawarkan pariwisata alam serta kebudayaan dan peninggalan sejarah sudah sepantasnya negeri ini berbangga dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu kekuatan dalam membangun sektor pariwisata di Indonesia. Heritage Tourism atau yang dikenal dengan wisata yang berbasis pada peninggalan sejarah merupakan suatu aktifitas wisata yang terbukti menjadi produk utama dalam pengemasan pariwisata di hampir seluruh negara-negara di Eropa termasuk Prancis sebagai negara dengan jumlah peringkat tertinggi di Eropa kunjungan wisatawannya.

Selain bangunan-bangunan kuno yang melambangkan kejayaan suatu negara pada zaman dulu, sejarah dan cerita yang besar merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya dalam mempromosikan objek wisata ini sebagai jiwa dari sisa bangunan bersejarah tersebut. Pada kajian kepustakaan kali ini akan mencoba mengangkat kejayaan peradaban Kerajaan Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan nusantara terbesar di Indonesia yang wilayahnya meliputi hampir seluruh negara di Asia Tenggara melalui sisa peninggalan dan sejarahnya. Tulisan ini bermaksud untuk kembali melihat potensi heritage tourism yang ada di Indonesia untuk dikembangkan menjadi sebuah daya tarik yang sepatutnya diangkat menjadi situs peninggalan sejarah yang dapat dipertimangkan untuk masuk kedalam situs peninggalan sejarah yang terdaftar di UNESCO seperti halnya peninggalan kerajaan-kerajaan dan tempat peribadatan dan kerajaan di Thailand seperti Kerajaan Ayuthaya, Filiphina, Myanmar, Malaysia yang merupakan pengaruh sisa peninggalan situs Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di masanya.

BAB I

PENDAHULUAN

 

Indonesia merupakan negara kepulauan tersebesar di dunia dengan panjang garis pantai yang dimiliki mencapai 81.000 kilometer dengan jumlah pulau mencapai 17.500 dengan luas daratan 1,9 juta kilometer persegi, sementara luas perairan 3,1 juta kilometer persegi. Melalui data tersebut tidaklah hal yang baru jika Indonesia disebut-sebut sebagai negara Maritim. Letak geografis Indonesia yang strategis dimana berada di antara dua samudra dan dua benua, setidaknya Indonesia berbatasan dengan 10 negara mulai dari Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, Filipina, Autralia, Papua Niugini, Timor Leste hingga India sehingga paling tidak 70 persen angkutan barang melalui laut Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya harus melalui perairan Indonesia.

Dalam catatan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, pada masa jauh sebelum Indonesia merdeka, semangat maritime sudah menggelora di bumi Nusantara ini. Bahkan beberapa kerajaan pada zaman itu seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit telah mampu menguasai lautan dengan armada perang, perdagangan yang besar serta pengaruhnya hingga negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Namun setelah masuknya pemerintah kolonial Belanda ke Indonesia pada awal abad ke-17 telah mengaburkan dan melunturkan semangat maritime nusantara dan dibelokan menjadi orientasi agraris.

Dalam masa kekuasaan Kolonial Belanda dan pengaruh ilmu pengetahuan dari dataran Eropa yang kurang lebih berkuasa di Indonesia selama 3,5 abad, pada tahun 1918 seorang sejarawan Prancis bernama Prof. George Coedes berhasil mengkuak kembali sejarah kekuatan Nusantara yang terpendam selama ribuan tahun dengan menemukan puing-puing jejak peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya yang tercatat telah berdiri pada tahun 671 sesuai dengan catatan  I Tsing (http://www.indonesiaindonesia.com/f/4090-sriwijaya/) Namun karena minimnya catatan sejarah yang dapat ditemukan serta fisik kerajaan yang sudah hancur dan “terkubur” sehingga hanya sedikit informasi yang bisa dikembangkan untuk diteliti dan sejarah kebesaran Kerajaan Sriwijaya hanya akan menjadi catatan sejarah gemilang peradaban nusantara tanpa adanya bukti fisik yang tersisa.

Beruntung dalam masa pemerintahan kolonial Belanda, dalam penelitian yang dilakukan oleh Wardenaar atas perintah Raffles pada tahun 1815 berhasil melakukan pengamatan mengenai peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto, dan dalam laporannya Raffles menyebutkan “in het bosch van Majapahit” yang merupakan awal penemuan kembali situs-situs reruntuhan Kerajaan Majapahit.

BAB II

PEMBAHASAN

A.        Kerajaan Sriwijaya

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara bahari, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.

Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.[2] Berdasarkan prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka, kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.

Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya mengendalikan dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri kemaharajaan Khmer, memutuskan hubungan dengan Sriwijaya pada abad yang sama.[2] Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.

B.        Kerajaan Majapahit

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.[13] Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Putra dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang berarti “penjahat lemah”. Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik ( Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.

Selain melancarkan serangan dan ekspedisi militer, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi dan menjalin persekutuan. Kemungkinan karena didorong alasan politik, Hayam Wuruk berhasrat mempersunting Citraresmi (Pitaloka), putri Kerajaan Sunda sebagai permaisurinya. Pihak Sunda menganggap lamaran ini sebagai perjanjian persekutuan. Pada 1357 rombongan raja Sunda beserta keluarga dan pengawalnya bertolak ke Majapahit mengantarkan sang putri untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Akan tetapi Gajah Mada melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa kerajaan Sunda takluk di bawah Majapahit. Pertarungan antara keluarga kerajaan Sunda dengan tentara Majapahit di lapangan Bubat tidak terelakkan. Meski dengan gagah berani memberikan perlawanan, keluarga kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya dikalahkan. Hampir seluruh rombongan keluarga kerajaan Sunda dapat dibinasakan secara kejam. Tradisi menyebutkan bahwa sang putri yang kecewa, dengan hati remuk redam melakukan “bela pati”, bunuh diri untuk membela kehormatan negaranya. Kisah Pasunda Bubat menjadi tema utama dalam naskah Kidung Sunda yang disusun pada zaman kemudian di Bali. Kisah ini disinggung dalam Pararaton tetapi sama sekali tidak disebutkan dalam Nagarakretagama.

Kakawin Nagarakretagama yang disusun pada tahun 1365 menyebutkan budaya keraton yang adiluhung, anggun, dan canggih, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Sang pujangga menggambarkan Majapahit sebagai pusat mandala raksasa yang membentang dari Sumatera ke Papua, mencakup Semenanjung Malaya dan Maluku. Tradisi lokal di berbagai daerah di Nusantara masih mencatat kisah legenda mengenai kekuasaan Majapahit. Administrasi pemerintahan langsung oleh kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali, di luar daerah itu hanya semacam pemerintahan otonomi luas, pembayaran upeti berkala, dan pengakuan kedaulatan Majapahit atas mereka. Akan tetapi segala pemberontakan atau tantangan bagi ketuanan Majapahit atas daerah itu dapat mengundang reaksi keras.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara[20]. Di bagian barat kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya ke Sumatera. Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

C.        Kerajaan Ayuthaya

Kerajaan Ayutthaya (bahasa Thai: อาณาจักรอยุธยา) merupakan kerajaan bangsa Thai yang berdiri pada kurun waktu 1350 sampai 1767 M. Nama Ayyuthaya diambil dari Ayodhya, nama kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama, tokoh dalam Ramayana. Pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong) mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaannya dan mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai, yaitu 640 km ke arah utara, pada tahun 1376.

Dalam perkembangannya, Ayyuthaya sangat aktif melakukan perdagangan dengan berbagai negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara Eropa. Penguasa Ayyuthaya bahkan mengizinkan pedagang Portugis, Spanyol, Belanda, dan Perancis untuk mendirikan pemukiman di luar tembok kota Ayyuthaya. Raja Narai (1656-1688) bahkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Raja Louis XIV dari Perancis dan tercatat pernah mengirimkan dutanya ke Perancis.

Setelah melalui pertumpahan darah perebutan kekuasaan antar dinasti, Ayutthaya memasuki abad keemasannya pada perempat kedua abad ke-18. Di masa yang relatif damai tersebut, kesenian, kesusastraan dan pembelajaran berkembang. Perang yang terjadi kemudian ialah melawan bangsa luar. Ayyuthaya mulai berperang melawan dinasti Nguyen (penguasa Vietnam Selatan) pada tahun 1715 untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja.

Meskipun demikian ancaman terbesar datang dari Birma dengan pemimpin Raja Alaungpaya yang baru berkuasa setelah menaklukkan wilayah-wilayah Suku Shan. Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua buah pasukan besar Birma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Menghadapi kedua pasukan besar tersebut, satu-satunya perlawanan yang cukup berarti dilakukan oleh sebuah desa bernama Bang Rajan. Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut. Berbagai kekayaan seni, perpustakaan-perpustakaan berisi kesusastraan, dan tempat-tempat penyimpanan dokumen sejarah Ayutthaya nyaris musnah; dan kota tersebut ditinggalkan dalam keadaan hancur.

Dalam keadaan negara yang tidak menentu, provinsi-provinsi melepaskan diri dan menjadi negara-negara independen di bawah pimpinan penguasa militer, biksu pemberontak, atau sisa-sisa keluarga kerajaan. Bangsa Thai dapat terselamatkan dari penaklukan Birma karena terjadinya serangan Tiongkok terhadap Birma serta adanya perlawanan dari seorang pemimpin militer bangsa Thai bernama Phraya Taksin, yang akhirnya mengembalikan kesatuan negara.

Peninggalan yang cukup menarik dari kota tua Ayutthaya hanyalah puing-puing reruntuhan istana kerajaan. Raja Taksin lalu mendirikan ibukota baru di Thonburi, yang terletak di seberang sungai Chao Phraya berhadapan dengan ibukota yang sekarang, Bangkok. Peninggalan kota bersejarah Ayutthaya dan kota-kota bersejarah sekitarnya yang terdapat pada lingkungan Taman Bersejarah Ayutthaya telah dimasukkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia UNESCO. Kota Ayutthaya yang baru kemudian didirikan di dekat lokasi kota lama, dan sekarang merupakan ibukota dari Provinsi Ayutthaya.

BAB III

PENUTUP

                Pada pemaparan di awal dan isi di BAB sebelumnya, telah dijelaskan bahwa kekayaan Negara Indonesia tidak hanya pada sumber daya alam yang dimiliki. Sejarah zaman keemasan masa lalu dengan Kerajaan-kerajaan besar yang menguasai wilayah Asia Tenggara dapat menjadi cerminan besarnya peradaban Nusantara di zaman itu. Di masa saat ini, ketika sisa-sisa peninggalan sejarah tersebut ditemukan kembali dan munculnya minat manusia dalam mempelajari dan menjaga warisan peradaban bangsa di dunia, Bangsa Indonesia harus berbangga atas kekayaan warisan budaya dengan sejarah dibelakangnya.

Munculnya UNESCO sebagai organisasi PBB yang bergerak dibidang penyelamatan dan pelestarian peninggalan warisan budaya di dunia diharapkan dapat menjadi tonggak dalam usaha untuk mengekslorasi kembali warisan-warisan budaya bangsa yang hampir terabaikan oleh pengaruh-pengaruh kehidupan modern. Selain itu dengan perkembangan aktifitas pariwisata yang semakin cerdas, potensi-potensi pengembangan situs-situs arkelogi antara lain candi-candi, situs kerajaan-kerajaan seperti Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit dan sisa-sisa peninggalan sejarah lainnya dapat dikelola dan dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang bertaraf Internasional seperti halnya situs Kerajaan Ayuthaya di Thailand yang termasuk salah satu situs kerajaan di kawasan Asia Tenggara yang terdaftar sebagai warisan budaya dunia dan telah terbukti membawa pengaruh yang positif sebagai objek andalan negeri gajah putih tersebut pada sektor pariwisata.

Oleh Sukma Winarya Prabawa

DAFTAR PUSTAKA.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya

http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit#Berdirinya_Majapahit

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Ayutthaya

ImageImageImage

This entry was posted in Heritage Tourism. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s