Filsafat Ilmu

FILSAFAT ILMU

  1. Terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan sebelum lahirnya zaman aufklarung, yaitu Empirisme dan Rasionalisme. Empirisme berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengalaman indrawi. Sehingga Empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukanlah pengetahuan dan mereka berpendapat bahwa rasio bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman untuk dijadikan pengetahuan. Metodenya bersifat induktif. Contohnya Ilmu Pengetahuan Alam. Sedangkan Rasionalisme merupakan faham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakaki, dan menurut mereka Pengalaman hanya dapat dipakai untuk menegaskan pengetahuan yang telah didapatkan dari rasio. Rasio sendiri tidak memerlukan pengalaman, ia dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri berdasarkan asas-asas yang pasti. Metode kerjanya bersifat deduktif. Contohnya Matematika. Zaman Aufklarung atau zaman pencerahan lahir pada abad ke XVIII dimana istilah ini berasal dari bahasa Jerman, sedangkan di Inggris zaman ini dikenal dengan sebutan zaman Enlightenment, yaitu lahirnya suatu zaman baru dimana seorang ahli fikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Zaman ini muncul saat manusia belum dewasa dalam pemikiran filsafatnya. Separe aude!! “beranilah berfikir sendiri”Semboyan di atas menandai dimulainya jaman pencerahan. Immanuel Kant (1724-1804) menegaskan bahwa “pencerahan” merupakan sikap pembebasan manusia dari ketidak dewasaan akibat kesalahannya sendiri. Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidak-inginan manusia untuk memamfaatkan rasionya; orang lebih suka berpaut pada otoritas lain di luar dirinya (wahyu ilahi, nasihat para ahli, otoritas agama, atau negara). Sehingga dengan mempertimbangkan paham yang bertentangan tersebut disepakatilah metode ilmiah sebagai kombinasi dari paham rasionalisme dan paham empirisme yang terbukti membawa pengaruh yang positif terhadap lahirnya perkembangan berbagai ilmu.
  2. Ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan

suatu pengkajian mengenai teori yang ada. Dasar ontologis dari ilmu

berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Berdasarkan

obyek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris,

karena obyeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman

manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca

indera manusia. Berlainan dengan agama dan bentuk-bentuk pengetahuan lain,

ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang bersifat empiris, selalu

berorientasi terhadap dunia empiris. Dalam sebuah penelitian yang bersifat ontologism adalah latar belakang karena latar belakang merupakan sebuah dasar pengkajian pada sebuah pengalaman terhadap teori yang ada.

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. Dalam sebuah penelitian yang bersifat Epistemologi adalah Landasan Teori dimana pada landasan teori akan dipaparkan jenis pengetahuan, karakter maupun sifat dari teori yang akan dijadikan acuan dalam sebuah penelitian.

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai. Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:

  • Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
  • Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
  • Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
  • Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional? (filsafat etika).

Dalam sebuah penelitian yang bersifat Aksiologi adalah rumusan masalah, tujuan penelitan karena pada poin ini akan memaparkan apa permaslah yang ada dan untuk apa penelitian ini dilakukan.

  1. Josep Situmorang mengatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.

 Ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu:
1.   Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian yaitu bebas dari pengaruh   eksternal seperti: faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.
2.    Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
3.    Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Habermas berpendirian teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai. Pendirian ini diwarisi dari pandangan Husserl yang melihat fakta atau objek alam diperlukan oleh ilmu pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi (scientisme).
Ilmu pengetahuan juga dikatakan terikat karena isinya tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneutika juga ditentukan oleh kepentingan-kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kepentingannya ialah memelihara serta memperluas bidang saling pengertian antar manusia dan perbaikan komunikasi.
Setiap kegiatan teoritis yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu:
1.    Pekerjaan, pekerjaan merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam.
2.    Bahasa, bahasa merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika.
3.    Otoritas, otoritas merupakan kepentingan ilmu-ilmu sosial.

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarahnya tidak selalu melalui logika penemuan yang didasarkan pada metodologi objektivisme yang ketat. Ide baru bisa saja muncul berupa kilatan intuisi atau refleksi religius, di mana netralitas ilmu pengetahuan kemudian rentan permasalahan di luar objeknya. Yaitu terikat dengan nilai subjektifitasnya seperti hal yang berbau mitologi. Dengan demikian netralitas ilmu semakin dipertanyakan.
Setiap buah pikiran manusia harus kembali pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hal ini sangat penting bahwa setelah tahap ontologi dan epistimologi suatu ilmu dituntut pertanyaan yaitu tentang nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Dari sudut epistemologi, sains (ilmu pengetahuan) terbagi dua, yaitu sains formal dan sains empirikal. Sains formal berada di pikiran kita yang berupa kontemplasi dengan menggunakan simbol, merupakan implikasi-implikasi logis yang tidak berkesudahan. Sains formal netral karena berada di dalam pikiran kita dan diatur oleh hukum-hukum logika.

 Oleh I Wayan Sukma Winarya Prabawa

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Aksiologis

http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi

http://denokfaizah.wordpress.com/2008/02/22/ontologi/

http://www.scribd.com/doc/43326775/Ontologi-Epistemologi-Dan-Aksiologi-Ilmu

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3795/1/fisip-erika.pdf

http://herydotus.wordpress.com/2011/03/23/ilmu-bebas-nilai-atau-tidak/

This entry was posted in Filsafat Ilmu & Research. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s