Pilgrimage tourism “Pura Parahyangan Agung Jagatkartha Gunung Salak”

Image

Saat pertama tiba di sisi luar pura, mungkin tidak ada yang begitu berbeda secara signifikan antara corak Pura Parahyangan Gunung Salak dengan pura-pura yang ada di Bali. Namun setelah memasuki jabe tengah pura, pemandangan yang luar biasa sangat memanjakan mata kita dengan lereng pegunungan yang berwarna hijau terlebih dengan alunan mantra yang terdengar sehingga sangat menentramkan perasaan siapapun yang datang.

Image

Di jabe tengah, sebelah kiri terdapat Arca Dewa Ganesha yang melambangkan kecerdasan, kebijaksanaan dan Dewa Pelindung. Ganesha, sosok Dewa berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ganesha menjadi ikon/simbol lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Islam, Kristen, hingga Budha melihat Ganesha sebagai sosok mahluk lucu dan unik. Ganesha memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah. Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan. Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita mendengarkan orang lain lebih banyak. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik: “Dengarkan ucapan-ucapan yang membersihkan jiwa dan seraplah pengetahuan dengan telingamu.” Ganesha mematahkan satu gadingnya untuk menggurat Kitab Suci di atas daun tal. Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia & suci. Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya yang dengan rakus ”menghirup rasa” manisan susu ilmu di tangannya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.

Beralih ke badan Ganesha yang besar: Hal pertama yang kita lihat pastilah perutnya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam. Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesenduan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya. Simbol Ganesha memegang sebilah kapak. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Sementara itu, di tangan kiri Ganesha terdapat semangkuk manisan susu. Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat Ganesha. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan Ganesha yang berbadan berat & tinggi ini? Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.

Image

Setelah melakukan persembahyangan di Arca Dewa Ganesha tersebut, kita dapat melanjutkan persembahyangan di Pesimpangan Plinggih Ratu Dalem Ped yang berada di sisi kiri jabe tengah pura. Pura Dalem Ped sendiri merupakan salah satu pura yang berada di pulau Nusa Penida Bali yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat Hindu Bali.

Image

Selanjutnya, kita dapat menuju bagian Utama Pura. Di sinilah terdapat pelinggih tempat Peristanaan Raja Prabu Siliwangi yang merupakan Raja termasyur kerajaan hindu terakhir di tanah sunda yang bernama kerajaan Padjajaran. Pura ini dirintis sejak tahun 1995 hingga akhirnya rampung pada tanggal 18 september 2005. Pembangunan pura ini pun tidak lepas dari pewisik yang di dapat oleh seorang umat dimana konon ditempat inilah Raja Kerajaan Padjadjaran Sang Prabu Siliwangi membawa kemasyuran bagi tanah Sunda. Bahkan ada yang percaya di tempat ini Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan. Namun sayangnya, tidak banyak prasasti-prasasti dan peninggalan Sang Raja yang ditemukan selain mitos-mitos dan kepercayaan masyarakat akan kesaktian Sang Raja dan moksa kepada Sang Pencipta.

Image

Sama halnya dengan pura-pura lain yang berada di tanah Bali, persembahyangan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartha Gunung Salak dipimpin oleh seorang pemangku dan pemedak yang tangkilpun lebih didominasi oleh masyarakat Hindu Bali yang berdomisili di pulau Jawa dan masyarakat Bali yang sedang melaksanakan Tirta Yatra. Namun tidak sedikit pula umat yang melakukan persembahyangan adalah masyarakat Hindu Jawa & Sunda yang khas terlihat dari pakaian adatnya.

Image

Sekian Pilgrimage Tourism untuk kali ini, bagi teman-teman yang belum pernah dan berniat tangkil mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan sehingga dapat lebih mengenal sejarah perjalanan leluhur-leluhur kita.

Image

Salam…
saatnya menikmati makanan khas bali di luar Pura..

selamat makaaaaaan…:D

Oleh I Wayan Sukma Winarya Prabawa

Daftar Pustaka

http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/arti-filosofi-dewa-ganesha.html

http://www.kasundaan.org/index.php?option=com_content&task=view&id=142&Itemid=27

This entry was posted in Pilgrimage Tourism Activity. Bookmark the permalink.

One Response to Pilgrimage tourism “Pura Parahyangan Agung Jagatkartha Gunung Salak”

  1. putuoq says:

    4 tahun 6 bulan saya tinggal di jakarta setiap minggu pasti ikut ke bogor dengan pengempon pure gunung salak terakhir pembangunan pure dalem peed saya balik ke bali semoga pure gunung salak rampung semua pembangunannya yang di cita2kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s